Catatan Harian Arga, Manusia Kantoran Biasa (10) TAMAT
EPISODE TERAKHIR
HIDUP SEWAAN :TERNYATA HIDUP GUE BEGINI-BEGINI AJA
Malam Minggu.
Arga sedang duduk di teras kos bersama Bayu.
Tidak ada acara.
Tidak ada rencana.
Mereka cuma makan gorengan sambil melihat motor orang lewat.
Bayu tiba-tiba bertanya,
“Ga.”
“Hm?”
“Lu pernah ngerasa hidup lu gini-gini aja enggak?”
Arga berhenti mengunyah.
Pertanyaan itu terlalu berat untuk seseorang yang sedang memegang bakwan.
“Kenapa tiba-tiba?”
“Enggak. Kepikiran aja.”
Arga bersandar.
Ia mencoba mengingat hidupnya beberapa bulan terakhir.
Bangun pagi.
Telat.
Kerja.
Pulang.
Gajian.
Senang.
Bayar tagihan.
Sedih.
Kerja lagi.
---
Tidak ada yang luar biasa.
Arga bukan orang penting.
Di kantor, kalau ia cuti sehari, perusahaan tetap berjalan.
Kalau ia terlambat, paling Rina mengejek.
Kalau laporannya selesai, besok muncul laporan baru.
Kalau kamar sudah dirapikan, tiga hari kemudian kursinya kembali menjadi lemari tanpa pintu.
Kalau gajian masuk, beberapa hari kemudian ia kembali membuka mobile banking sambil berbisik,
“Loh?”
Hidup seperti berputar-putar di situ saja.
---
“Tapi lumayan seru sih,” kata Arga.
“Apanya?”
Arga berpikir.
“Ya... semuanya.”
Bayu menatapnya.
“Lu pernah kehujanan gara-gara males bawa jas hujan.”
“Jangan ambil contoh itu.”
“Lu pernah masak ayam sampai rasanya kayak air laut.”
“Yang lain.”
“Lu beli parfum mobil padahal enggak punya mobil.”
“Yu.”
“Apa?”
“Gue batal cerita.”
Bayu tertawa.
---
Arga ikut tertawa.
Lalu ia sadar, mungkin memang begitu bentuk sebagian besar kehidupan.
Kita menunggu sesuatu yang besar terjadi.
Naik jabatan.
Punya rumah.
Punya banyak uang.
Ketemu seseorang.
Pergi ke tempat jauh.
Seolah hidup baru dianggap menarik kalau ada sesuatu yang pantas diceritakan.
Padahal sebagian besar hari tidak seperti itu.
Sebagian besar hari cuma bangun kesiangan, mencari kaos kaki sebelah, bingung makan apa, mengeluh soal kerjaan, lalu pulang sambil memikirkan besok makan apa.
Dan anehnya...
justru hari-hari seperti itulah yang paling banyak kita miliki.
---
Ponsel Arga berbunyi.
Grup kantor.
Pak Danu:
Teman-teman, mengingatkan Senin kita rapat pukul 08.30 ya.
Satu orang membalas.
Siap Pak.
Lalu satu lagi.
Siap.
Kemudian satu lagi.
Baik Pak, siap 🙏
Arga menatap layar.
Bayu bertanya,
“Kenapa?”
“Rapat.”
“Balas.”
“Malas.”
Lima detik kemudian Arga mengetik:
Siap Pak.
Bayu tertawa.
“Katanya malas.”
“Gue masih butuh pekerjaan.”
---
Mereka kembali diam.
Angin malam lewat pelan.
Dari dapur terdengar suara penghuni kos lain merebus mi.
Ada motor masuk.
Ada orang tertawa dari kamar sebelah.
Tidak ada musik.
Tidak ada kejadian besar.
Arga mengambil gorengan terakhir.
Bayu langsung mengambil juga.
Tangan mereka bertemu.
“Gue duluan.”
“Gue yang beli.”
“Gue yang nemenin beli.”
“Itu kontribusi apa?”
“Dukungan moral.”
Mereka tarik-tarikan bakwan.
Bakwan patah.
Jatuh ke lantai.
Keduanya diam.
Bayu menatap Arga.
Arga menatap Bayu.
“Lima detik?”
“Masih aman.”
Arga mengambilnya.
“Tiup.”
Bayu meniup.
Mereka membagi dua.
Begitulah persahabatan laki-laki.
Tidak selalu saling menguatkan.
Kadang saling meyakinkan bahwa makanan yang jatuh masih layak dimakan.
---
Malam semakin larut.
Arga masuk kamar.
Kursinya masih penuh baju.
Besok saja dibereskan.
Ia memasang alarm.
05.30.
05.45.
06.00.
06.15.
Lalu tersenyum sendiri.
Besok mungkin ia bangun tepat waktu.
Mungkin juga tidak.
Senin ia akan kembali bekerja.
Rina mungkin akan mengejeknya.
Pak Danu mungkin mengadakan rapat yang seharusnya cukup menjadi satu chat.
Tanggal 25 ia akan merasa kaya.
Tanggal 30 ia akan kembali sadar diri.
Dan ketika ditanya mau makan apa, kemungkinan besar ia tetap akan menjawab,
“Terserah.”
Hidup Arga mungkin memang begitu-begitu saja.
Tapi ternyata...
begitu-begitu saja bukan berarti tidak berarti.
Sebab hidup tidak selalu tersimpan dalam kejadian-kejadian besar.
Kadang hidup justru ada pada kopi pagi, obrolan bodoh dengan teman, perjalanan ke kantor, uang yang pas-pasan, kamar kos yang berantakan, dan hari biasa yang kita pikir akan selalu ada.
Suatu hari nanti, mungkin Arga akan pindah dari kos itu.
Pindah kantor.
Punya kehidupan lain.
Dan ketika mengingat masa ini, bisa jadi yang paling ia rindukan justru hal-hal yang sekarang paling sering ia keluhkan.
Arga mematikan lampu.
Ponselnya berbunyi.
Bayu mengirim pesan dari kamar sebelah.
Ga.
Arga:
Apa?
Bayu:
Besok sarapan bubur depan gang?
Arga:
Boleh.
Bayu:
Jam 6.30.
Arga melihat empat alarmnya.
Lalu membalas:
Siap.
Beberapa detik kemudian Bayu menjawab:
Bacot. Paling bangun jam 7.
Arga tersinggung.
Ia mengetik panjang.
Menghapusnya.
Lalu mematikan ponsel.
Besok ia akan membuktikan Bayu salah.
Setidaknya...
itulah yang Arga pikirkan setiap malam.
— TAMAT —
Untuk kita yang hidupnya terasa biasa-biasa saja.
Mungkin hidup kita tidak membosankan.
Mungkin kita cuma belum cukup jauh untuk merindukannya.
