Udara Samarinda Membaik di Pagi Hari, Tapi Dini Hari Sempat Capai Level Berbahaya

Ilustrasi

TITIKWARTA.COM - SAMARINDA - Kabar membaiknya kualitas udara membawa kembali aktivitas belajar tatap muka di Kota Samarinda. Pemerintah Kota Samarinda mengakhiri Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) setelah tiga hari pelaksanaan pada 17–19 September 2026. Hasil evaluasi pemerintah menunjukkan ISPU berada di angka 28 atau kategori baik.

 

Namun, gambaran kualitas udara Samarinda ternyata tidak sesederhana satu angka.

 

Pemantauan BMKG Stasiun Meteorologi APT Pranoto menunjukkan kualitas udara masih dapat berubah drastis dalam hitungan jam. Pada Senin (21/9/2026), konsentrasi PM2.5 yang dikonversi menjadi ISPU sempat mencapai 729,1 µg/m³ pada pukul 01.00 WITA, masuk kategori berbahaya.

 

Angka tersebut bukan hanya lonjakan sesaat. Pada pukul 00.00 WITA, ISPU sudah berada di angka 315,3 µg/m³ dan masih berada di atas kategori berbahaya hingga pukul 04.00 WITA, ketika tercatat 523,9 µg/m³.

 

Kondisi ini menunjukkan satu hal penting: kualitas udara Samarinda dapat sangat berbeda tergantung kapan dan di mana pengukuran dilakukan.

 

Sebelumnya, Laboratorium Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur juga menemukan pola peningkatan polusi terutama pada dini hari hingga pagi. Pada 17 September pukul 07.00 WITA, ISPU di stasiun pemantauan Labkes Kaltim mencapai 357 atau kategori sangat buruk, dengan konsentrasi PM2.5 sebesar 194,42 µg/m³.

 

Artinya, ketika masyarakat melihat angka kualitas udara yang membaik pada pagi atau siang hari, kondisi tersebut tidak otomatis menggambarkan kualitas udara sepanjang 24 jam.

 

Bukan Berarti Data Saling Bertentangan

Perbedaan angka tersebut juga tidak serta-merta berarti salah satu pihak keliru.

 

Pengukuran dilakukan pada lokasi, waktu, dan sistem pemantauan yang berbeda. Pemerintah Kota menggunakan hasil evaluasi kualitas udara untuk menentukan kebijakan sekolah, sementara BMKG melakukan pemantauan kualitas udara secara berkala di kawasan APT Pranoto.

 

Karena itu, satu angka kualitas udara sebaiknya dibaca bersama konteks waktu dan lokasi pengukurannya.

 

Hal ini menjadi semakin penting karena kabut asap masih berkaitan dengan aktivitas kebakaran hutan dan lahan di sekitar Samarinda. BMKG mencatat kondisi udara dapat berubah mengikuti dinamika atmosfer dan arah angin yang membawa partikulat ke wilayah perkotaan.

 

Dampaknya Sudah Terlihat di Layanan Kesehatan

Di tengah fluktuasi kualitas udara tersebut, Dinas Kesehatan Samarinda mencatat 8.609 kasus ISPA hingga 16 September 2026. Dinkes menyebut tren kasus pada September meningkat hampir 30 persen dan telah menyiagakan fasilitas kesehatan menghadapi kemungkinan peningkatan pasien.

 

Dengan sekolah yang telah kembali melakukan pembelajaran tatap muka, pemerintah tetap mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan perkembangan kualitas udara dan menyesuaikan aktivitas luar ruangan apabila kondisi kembali memburuk.

 

Bagi warga Samarinda, persoalannya kemudian bukan sekadar apakah udara “sudah membaik” atau “masih buruk”.

 

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Kapan udara membaik, di mana udara membaik, dan bagaimana kondisinya beberapa jam kemudian?

 

Sebab dari data pemantauan yang ada, udara Samarinda memang dapat terlihat jauh lebih baik pada satu waktu, tetapi berubah menjadi sangat buruk hanya beberapa jam setelahnya.(sen/tw)